Kuliah Pakar Cyber Security STARTIKA Hadirkan Bayu Fedra

Surakarta – Program Studi D3 Teknik Informatika, Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS), kembali menghadirkan praktisi industri melalui kegiatan Kuliah Praktisi/Pakar IT yang kali ini mengangkat tema Cyber Security di Era Artificial Intelligence (AI). Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (1/7/2026) pukul 13.00–17.00 WIB di Aula Sekolah Vokasi UNS tersebut menghadirkan praktisi keamanan siber Bayu Fedra sebagai narasumber utama.

Kuliah praktisi diikuti oleh ratusan mahasiswa dari Program Studi D3 Teknik Informatika Sekolah Vokasi UNS dan S1 Informatika. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam mempertemukan mahasiswa dengan praktisi industri agar memperoleh wawasan mengenai perkembangan teknologi terkini sekaligus memahami kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja.

Acara dipandu oleh Fiddin Yusfida A’La sebagai moderator dan dikoordinasikan oleh Yudho Yudhanto selaku penanggung jawab kegiatan. Seluruh pelaksanaan acara mendapat dukungan dari Emailkomp bersama seluruh dosen Program Studi D3 Teknik Informatika UNS. Dalam sesi pemaparannya, Bayu Fedra menjelaskan bahwa Cyber Security saat ini telah berkembang menjadi salah satu sektor strategis yang dibutuhkan hampir di seluruh industri. Digitalisasi yang semakin masif, penggunaan layanan cloud, Internet of Things (IoT), transaksi digital, hingga pemanfaatan Artificial Intelligence menyebabkan kebutuhan akan tenaga profesional keamanan siber meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun.

Menurut Bayu Fedra, keamanan siber tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab divisi teknologi informasi, tetapi telah menjadi kebutuhan utama organisasi untuk melindungi aset digital, data pelanggan, sistem bisnis, hingga infrastruktur penting. Ia menegaskan bahwa ancaman siber kini semakin kompleks karena para pelaku kejahatan juga mulai memanfaatkan teknologi AI untuk mempercepat proses pencarian celah keamanan, membuat malware yang lebih adaptif, hingga melancarkan serangan phishing yang semakin sulit dibedakan dari komunikasi asli.

“Perkembangan Artificial Intelligence memberikan banyak manfaat dalam meningkatkan produktivitas manusia. Namun, di sisi lain AI juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk mengotomatisasi berbagai jenis serangan. Karena itu, kita membutuhkan lebih banyak talenta Cyber Security yang mampu memanfaatkan AI sebagai alat pertahanan, bukan hanya memahami sisi teknologinya,” jelas Bayu Fedra.

Selain membahas perkembangan teknologi, Bayu juga menguraikan berbagai prospek profesi di bidang Cyber Security yang saat ini banyak dibutuhkan oleh perusahaan nasional maupun internasional. Beberapa profesi yang diperkenalkan kepada mahasiswa antara lain Security Analyst, Penetration Tester (Ethical Hacker), Digital Forensics Analyst, Security Engineer, Incident Response Team, Security Operations Center (SOC) Analyst, Cloud Security Engineer, Security Consultant, hingga Chief Information Security Officer (CISO). Menurutnya, peluang karier pada bidang tersebut terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan organisasi terhadap perlindungan data dan sistem informasi.

Bayu juga memberikan gambaran mengenai kompetensi yang perlu dipersiapkan mahasiswa sejak masa kuliah apabila ingin berkarier di bidang keamanan siber. Ia menekankan pentingnya penguasaan dasar-dasar jaringan komputer, sistem operasi Linux dan Windows, administrasi server, pemrograman, database, keamanan aplikasi web, kriptografi, hingga pemahaman mengenai standar keamanan informasi. Selain kemampuan teknis, mahasiswa juga didorong untuk memiliki kemampuan berpikir analitis, problem solving, komunikasi, serta menjunjung tinggi etika profesi karena Cyber Security merupakan bidang yang sangat berkaitan dengan tanggung jawab dan integritas.

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah demonstrasi hacking secara langsung (live hacking demo). Dalam demonstrasi tersebut, Bayu memperlihatkan bagaimana sebuah sistem yang memiliki konfigurasi keamanan lemah dapat dieksploitasi oleh penyerang. Ia menunjukkan beberapa contoh teknik serangan yang umum terjadi, seperti pemanfaatan password yang lemah, eksploitasi celah pada aplikasi web, hingga pentingnya pengelolaan hak akses pengguna.

Seluruh demonstrasi dilakukan dalam lingkungan laboratorium yang aman sebagai media pembelajaran sehingga mahasiswa dapat memahami proses serangan sekaligus langkah-langkah pencegahannya. Bayu menegaskan bahwa tujuan demonstrasi tersebut bukan untuk mengajarkan tindakan ilegal, melainkan memberikan pemahaman mengenai cara berpikir seorang penyerang sehingga calon pengembang sistem mampu membangun aplikasi yang lebih aman.

Antusiasme mahasiswa semakin terlihat pada sesi diskusi interaktif. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari jalur belajar Cyber Security, peluang kerja di perusahaan global, sertifikasi profesional yang direkomendasikan, pengalaman menjadi penetration tester, hingga bagaimana Artificial Intelligence akan memengaruhi pekerjaan seorang praktisi keamanan siber di masa depan.

Penanggung jawab kegiatan, Yudho Yudhanto, menyampaikan bahwa penyelenggaraan kuliah praktisi merupakan salah satu strategi Program Studi D3 Teknik Informatika UNS untuk mendekatkan proses pembelajaran dengan kebutuhan industri.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori di ruang kelas, tetapi juga memperoleh wawasan langsung dari praktisi yang setiap hari menghadapi tantangan nyata di dunia industri. Cyber Security merupakan salah satu bidang yang pertumbuhannya sangat cepat dan menjadi kebutuhan di hampir semua sektor. Harapannya, kegiatan seperti ini mampu memotivasi mahasiswa untuk mulai mempersiapkan kompetensi sejak dini sehingga memiliki daya saing ketika memasuki dunia kerja,” ungkap Yudho.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai pentingnya keamanan informasi di era transformasi digital, mengenal peluang profesi yang menjanjikan di bidang Cyber Security, memahami konsep dasar ethical hacking secara bertanggung jawab, serta termotivasi untuk terus meningkatkan kompetensi melalui pembelajaran mandiri, proyek, kompetisi, maupun sertifikasi profesional.

Program Studi D3 Teknik Informatika Sekolah Vokasi UNS berkomitmen untuk terus menghadirkan praktisi dan pakar dari berbagai bidang teknologi informasi sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis industri. Sinergi antara perguruan tinggi dan dunia profesional diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang adaptif, kompeten, dan siap menghadapi tantangan transformasi digital di tingkat nasional maupun global.

Bagikan:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp

Berita Terkait

Berita Terbaru